Petani Harus Hindari Sistem 'Ratoon'
"Dengan sistem ratoon, hama tanaman seperti wereng dan penggerek seolah-olah mendapat persediaan makanan secara terus menerus sehingga populasinya akan meledak dan sulit diberantas," kata Dr. Ir. Djoko Prayitno, M.Sc, ahli budidaya padi Universitas Gadjah Mada (UGM) kepada wartawan di Yogyakarta, Selasa.
Sistem penanaman ratooning tersebut dilakukan pada padi Super Toy HL-2 yang ditanam di Purworejo yang kemudian mengalami puso pada panen kedua.
Menurut Djoko, pada prinsipnya semua varietas padi dapat ditanam dengan sistem ratooning, hanya saja sistem tersebut tidak tepat bila diterapkan di daerah pertanian intensif seperti di Pulau Jawa.
"Ratooning hanya cocok dilakukan di daerah rawa atau banjir dengan tenaga kerja yang kurang," katanya.
Jika penanaman padi di Jawa dilakukan secara ratooning, Djoko mengkhawatirkan padi di seluruh daerah akan puso karena serangan hama.
Ia menambahkan, padi Super Toy HL2 yang kini tengah menjadi perbincangan hangat setelah mengalami gagal panen karena batangnya gabuk adalah padi tipe lama atau yang lebih dikenal masyarakat sebagai padi Jawa.
Beberapa varietas yang termasuk padi Jawa di antaranya padi bulu, cere dan gundil dengan ciri-ciri fisik berbatang tinggi namun produksinya sedikit yaitu sekitar tiga hingga empat ton per hektar.
Padi tipe lama cenderung tidak tahan terhadap hama dan tidak bisa dilakukan pemupukan yang terlalu berlebihan karena akan ambruk.
Menyinggung kasus gabuk seperti yang terjadi pada hasil panen kedua Super Toy HL2 di Purworejo, Djoko mengatakan kondisi gabuk pada tangkai padi perlu dilihat secara fisik.
Jika hanya sebagian tangkai yang gabuk maka kemungkinan besar disebabkan oleh kurangnya pemupukan, sedang jika seluruh tangkai gabuk hal tersebut lebih disebabkan serangan hama penggerek.
Sementara itu ahli pemuliaan tanaman UGM Supriyatna mengatakan, menyilangkan dua varitas tanaman yang berbeda untuk mendapat varietas baru dengan sifat-sifat yang lebih unggul dari varietas lama bukan urusan mudah dan membutuhkan penelitian dengan waktu yang cuku lama.
Padi Super Toy HL2 disebut merupakan hasil persilangan antara dua jenis padi tipe lama yaitu Rojo Lele dan Pandanwangi yang keduanya memiliki kapasitas produksi rendah.
Ia mengatakan, waktu yang diperlukan untuk mendapatkan varietas baru yang ideal adalah tujuh hingga delapan generasi atau paling cepat tiga tahun jika dalam satu tahun panen tiga kali.
Selain itu, juga diperlukan uji lokasi setidaknya di 20 lokasi dan baru dilihat rata-rata hasil dan asumsi stabilitasnya.
"Kemudian didaftarkan ke komisi pelepasan varietas, baru ada surat dari Menteri Pertanian dengan jumlah bibit yang masih terbatas, Sedangkan untuk memperbanyaknya tugas dari ahli teknologi benih," katanya.
Berdasarkan kejadian yang merugikan petani Purworejo yang menanam Super Toy HL2, Fakultas Pertanian UGM menyarankan kepada pemerintah untuk melakukan uji ketahanan varietas tersebut terhadap hama tanaman karena pada tipe tersebut biasanya rentan terhadap serangan hama atau penyakit tanaman. (*/bee)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar