| Dari Ikan Lele sampai Lou Han BANYAK orang mengenal Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, karena keberadaan Candi Borobudur dan Mendut serta atraksi kesenian masyarakat sekitarnya. Namun, belum banyak orang tahu bahwa kabupaten tersebut juga merupakan salah satu sentra pembibitan ikan air tawar di Indonesia. Kawasan yang menjadi sentra pembibitan ikan di Magelang adalah Ngrajek, Kecamatan Mungkid. Letaknya hanya beberapa kilometer dari kawasan wisata Candi Borobudur. Memasuki kawasan Ngrajek, kolam-kolam pembibitan ikan terlihat di sebagian besar rumah penduduk. Mereka membibitkan ikan di kolam semen maupun di empang dan sawah. Pembibitan ikan memang merupakan salah satu gantungan hidup masyarakat Ngrajek dan sekitarnya. Setidaknya ada 25.807 keluarga mengusahakan pemeliharaan ikan air tawar di kolam, 14.687 keluarga memelihara ikan di sela-sela sawah, 283 keluarga mengusahakan ikan telaga dan irigasi, dan 86 keluarga yang khusus bergelut sebagai petani di unit pembenihan ikan. Semaraknya usaha pembibitan dan pemeliharaan ikan juga tampak dari adanya Pasar Ikan Ngrajek yang khusus menjual bibit ikan. Pasar inilah yang menjadi pusat penjualan bibit ikan di Kabupaten Magelang. Para petani ikan air tawar dari berbagai daerah di Pulau Jawa dan luar Jawa datang ke pasar itu untuk membeli bibit ikan. Mereka antara lain berasal dari sejumlah daerah sentra ikan air tawar seperti Purbalingga, Banjarnegara, Sukabumi, Purworejo, Bawen, Semarang, Sukoharjo, Pontianak, Riau, dan lainnya. Tidak heran jika Pasar Ngrajek senantiasa ramai oleh pedagang dan pembeli bibit yang bertransaksi. Ember-ember dan kolam semen untuk menampung bibit ikan memenuhi pasar yang berukuran sekitar 25 x 25 meter itu. Umumnya, bibit ikan yang dicari meliputi ikan tawes, mas, lele, gurame, mujair, nila, dan belut. Bibit ikan dari kawasan Ngrajek disukai petani dari daerah lain karena lebih tahan terhadap perubahan cuaca dan tidak cepat mati. Bibit ikan paling "bandel" dari Ngrajek yang cukup dikenal adalah bibit tawes dan mas. Berdasarkan data Pemerintah Kabupaten Magelang, luas lahan pembibitan ikan di kabupaten itu mencapai 46.365 hektar. Lahan tersebut menghasilkan bibit ikan sebanyak 411.669.100 kilogram pada tahun 2001 dan 401.498.300 kilogram pada tahun 2002. Dari data tersebut, terlihat ada penurunan produksi bibit ikan pada tahun 2002 dalam jumlah yang cukup banyak. Penurunan tersebut disebabkan oleh faktor cuaca. Biasanya, di musim kemarau panjang, produksi bibit ikan memang berkurang sebab banyak lahan pembibitan ikan di Magelang kekurangan air. Induk ikan pun malas bertelur. Di luar itu, petani terbiasa mengubah kolam ikannya menjadi ladang tembakau dan cabe di musim kering. Permintaan bibit ikan dari daerah lain juga berkurang. Pasalnya, lahan perikanan air tawar untuk membesarkan ikan di daerah-daerah lain juga banyak yang dilanda kekeringan. Lesunya produksi dan permintaan bibit ikan dari para petani pemelihara terlihat juga pada musim kemarau tahun ini. Joko Suprianto, salah seorang petani sekaligus pedagang bibit ikan, mengatakan, permintaan bibit ikan untuk dibesarkan sebagai ikan konsumsi turun 60-75 persen. "Biasanya saya bisa jual satu kuintal bibit ikan sehari, sekarang 10 kilogram saja susah," katanya. Hal yang sama dikatakan pedagang bibit ikan lain, Rowi. Menurut dia, di awal musim hujan, penjualan bibit cukup semarak. Pasar Ngrajek selalu dipenuhi bak-bak berisi bibit berbagai ikan. Pembeli pun datang silih berganti, mengalir seperti air. "Kalau lagi ramai, halaman pasar ini penuh dengan bak ikan. Bahkan, susunan bak bisa sampai keluar pagar pasar," kata Rowi. Namun, bagi para petani yang tidak hanya menunggu pembeli dan berusaha memperluas pasar tradisional mereka, perdagangan bibit ikan sebenarnya tidak sesuram itu. Peluang untuk menjual bibit ikan, terutama lele dan mas, masih terbuka lebar. Menurut Joko, setiap hari sebenarnya ada permintaan bibit ikan lele dan mas ukuran 2-3 sentimeter sebanyak satu juta ekor dari beberapa pedagang dan pemelihara ikan hias lou han di Yogyakarta, Semarang, dan Jakarta. Bibit ikan lele dan mas itu dijadikan pakan ikan hias yang sedang digandrungi banyak orang itu. Namun, permintaan bibit ikan sebanyak itu tidak bisa dipenuhi para pedagang. Kemampuan para pedagang di Ngrajek untuk memasok bibit ikan hanya sekitar 200.000 ekor sehari. Dengan demikian, pasokan bibit ikan ke tiga kota itu masih kurang setidaknya 800.000 ekor bibit sehari. Pasar bibit ikan lele dan mas itu masih bisa diperlebar lagi, karena masih banyak pencinta lou han di kota-kota lainnya di Indonesia yang juga membutuhkan kedua jenis bibit ikan itu untuk pakan. Harga jual bibit ikan untuk pakan lou han pun kini sedang tinggi. Sejumlah pedagang bibit ikan yang ditemui di Pasar Ikan Ngrajek, pekan lalu, mengatakan, harga bibit ikan melonjak sejak April lalu. Bibit ikan lele ukuran 2-3 sentimeter yang sebelumnya berharga Rp 5 per ekor, kini melonjak menjadi Rp 17 per ekor. Kenaikan juga terjadi untuk bibit ikan mas yang sebelumnya Rp 25.000/kg kini menjadi Rp 35.000/kg, sedangkan bibit ikan tawes yang semula Rp 15.000/kg menjadi Rp 20.000/kg. Joko berpendapat, petani harus mulai kreatif memanfaatkan pasar yang ada. Permintaan bibit ikan lele dan mas yang cukup tinggi sebenarnya dapat dipenuhi jika para pedagang mau bekerja sama untuk memenuhi pasar baru itu. Namun, petani tidak perlu meninggalkan pasar tradisional mereka yang sudah ada. Maryoto, staf di Bagian Budidaya Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Magelang, mengakui, produksi bibit ikan di Ngrajek masih terbatas, padahal peluang pasarnya besar. Dia mencatat, permintaan bibit ikan lele untuk pakan lou han baru bisa disediakan sekitar 10 persen dari permintaan sebanyak satu juta bibit sehari. (BUDI SUWARNA) |
Tidak ada komentar:
Posting Komentar