Sabtu, 10 Januari 2009

Belut di Muntilan

Magelang Dijadikan Budidaya Belut
25/04/2008 08:05:08 MUNTILAN (KR) - Kabupaten Magelang dalam waktu dekat akan dijadikan untuk pengembangan budidaya belut. Bahkan rencana ini muncul adanya pengusaha Jepang yang akan menanamkan investasi. �Pada prinsipnya, sepanjang masyarakat Magelang diuntungkan dan disejahterakan, siapapun investor yang akan menanamkan sahamnya di wilayah Magelang akan kami dukung. Termasuk kabar adanya pengusaha Jepang yang akan menanamkan investasinya di bidang perbelutan di wilayah ini,� kata Kepala Dinas Peternakan dan Perikanan (Dinas Peterikan) Kabupaten Magelang Ir Suryo Sumargo yang ditemui KR kemarin.�
Dijelaskan Suryo, selama ini di wilayah Magelang memang belum ada peternak belut. �Kalaupun banyak belut yang dipasarkan, itu didapat dari sawah. Cara mencarinya pun, masih konvensional yakni dengan cara �disuluh� saat malam tiba. Yang jelas, selama ini di Magelang belum ada peternak belut,� jelasnya.
Sementara Sabar (45) petani, warga Kajoran mengaku senang bila ada yang memberinya bantuan modal ataupun alat dan benih belut kepadanya. �Jika ada yang mau memberi bantuan, kami siap menerima. Terpenting, kami harus dilatih dahulu dan pemasarannya jelas,� ungkapnya.
Sementara itu meningkatnya minat masyarakat mengonsumsi belut, membuat banyak masyarakat berminat untuk beternak ikan darat dari keluarga Synbranchidae dan tergolong ordo Synbranchiodae itu. Mereka lantas menghubungi Subdin Perikanan Dinas Pertanian Kabupaten Temanggung untuk diminta menyuluh beternak makhluk yang bernama latin monopterus albus tersebut. Karena terkendala ketersediaan benih sehingga penyuluhan terpaksa dibatasi.
�Secara teknis sudah diberikan, tapi dinas sendiri belum praktik secara nyata dan bibit masih sulit didapat. Kita batasi penyuluhan, sembari mencari jaringan tempat pembibitan belut,� kata Kasubdin Perikanan Dinas Pertanian Kabupaten Temanggung, Muhammad Hadi, di ruang kerjanya
Pangsa pasar belut, terangnya terbuka lebar dan sangat prospektif, baik untuk tingkat lokal maupun antar daerah. Permintaan juga kian meningkat, sayangnya petani dan pedagang belum bisa memenuhinya. Alasan utama belum adanya pasokan belut dalam jumlah besar ke pasar.
Selama ini pasokan belut masih mengandalkan tangkapan secara tradisional, belum dari peternakan. Dengan kian rusaknya lahan pertanian, belut pun susah dicari karena populasinya berkurang. � Dipasar perkilonya mencapai minimal 15 ribu rupiah, dan ini harus berebut untuk mendapatkannya,� terang Hadi.
Masyarakat yang ingin membudidayakan belut, katanya, kesulitan mencari benih. Sebagian mendatangkan dari Magelang, Purworejo, Banyumas dan� beberapa daerah lainnya, namun ketersediaan benih juga jadi rebutan karena masih minim. Sementara dari dinas sendiri juga kesulitan mencarikannya. �Kita masih sebatas penyuluhan, namun kami tetap berusaha untuk membantu penyediaan benih,� katanya sembari menambahkan beberapa kelompok telah membudidayakan belut namun belum maksimal karena terkendala benih, demikian juga kelompok yang tertarik membudidayakan belut.
Sebagaiman diketahui, Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Dr Erman Suparno pernah mengungkapkan di Yogyakarta saat berbincang dengan Direktur Utama PT BP KR Kamis (17/4) lalu, bahwa pengusaha Jepang saat ini tengah menjajaki untuk melakukan investasi beternak belut yang dalam Bahasa Jepang disebut �unagi� di wilayah Magelang.� Latar belakang hal itu, karena kebutuhan belut masyarakat Jepang yang sebelumnya dipasok dari Cina dihentikan karena tanah dan air di negara tersebut telah tercemar.������� (R-8/*-2/Yhr)

Tidak ada komentar: