Pelangi di Rumah Alinda
membuat hidup menjadi lebih berwarna
Dulu , setiap membaca karangan dunia Barat, beberapa diantaranya ada menyisipkan ritual membaca dongeng sebelum tidur. Hal ini dilakukan oleh Ayah atau Ibu mereka. Juga di serial atau film Barat sering sekali ada adegan membaca dongeng di tempat tidur kemudian selesai membaca Ayah atau Ibu meninggikan selimut di badan anaknya kemudian mematikan lampu baca dan mengucapkan kata “Good Night” dan kemudian menutup pintu.
Sementara Ibu adalah produk anak ke 11 dari 13 bersaudara yang tidur bareng dengan sepupu di satu kamar. Kemudian pernah tidur di kamar gudang dekat dapur karena ingin memiliki privasi sendiri. Memang Ibu akhirnya selalu membaca majalah atau buku sebelum tidur berhubung kamar gudang itu adalah tempat penyimpanan buku ataupun majalah yang sudah selesai dibaca. Karena fungsinya maka lampu di kamar hanyalah 5 watt. Dan inilah awal Ibu mengalami gangguan penglihatan dan berdampak pada minus 2,75 di kelas 4 SD.
Tapi acara pembacaan dongeng sebelum tidur tidak pernah Ibu alami.
Kemarin saat gegap gempita Obama sebagai Presiden USA, ada satu wawancara dengan Michele istrinya, salah satu kalimatnya menyatakan kurang lebih begini, “Kami ingin kedua anak kami hidup senormal mungkin walaupun di Gedung Putih, mereka boleh masuk ke Ruang Oval untuk menyatakan selamat malam kepada Ayahnya setelah menyelesaikan Peer. Obama pun telah berjanji untuk mengusahakan membacakan cerita kepada mereka sebelum tidur”
Indah sekali, Seorang Presiden USA tetap menganggap penting ritual membaca sebelum tidur. Bagaimana di Indonesia ?
Hari ini Ibu membaca Sisipan Ruang Baca Edisi November dari Koran Tempo.
Tepat di bagian belakang di Artikel Kolom ditulis oleh Qaris Tajudin berjudul
Gunung, Buku dan Imajinasi (sayangnya link Ruang Baca bulan ini belum upload di http://www.ruangbaca.com)
Ternyata meniru kebiasaan baik itu, 2 minggu lalu Sigit menemukan Buku “ Kumpulan Kisah Dongeng HC Andersen” di salah satu box di Garasi. Buku itu Ibu beli saat Ibu berdinas di Jambi tahun 1999, kalau tidak salah itu dibeli saat diskon di Toko Buku Abadi.
Sigit membawanya ke kamar tidur dan memilih salah satu cerita berdasarkan gambarnya yang paling menarik hati Sigit, Judulnya : Prajurit Timah Berkaki Satu. Sigit menyuruh Ibu membacakannya. Saat itu Ibu teringat dengan Impian masa kecil Ibu tentang Membaca Buku Dongeng Sebelum Tidur. Dengan senang hati Ibu melakukannya. Cerita 16 halaman itu Ibu bacakan segera.
Esok harinya sebelum tidur Sigit minta dibacakan cerita yang sama.
Esoknya lagi juga demikian.
Sampai 7 hari berturut-turut cerita yang sama.
Padahal Ibu ingin membacakan kisah yang lain karena bosan membaca itu itu saja. Sigit memang mengalah dan mempersilahkan Ira memilih cerita lain. Sahira memilih cerita “Itik Buruk Rupa.” Namun begitu Ibu selesai membaca cerita itu , Sigit menuntut Ibu harus membaca “Prajurit Timah Berkaki Satu”
Akhirnya Ibu buat kesepakatan bahwa kita akan saling bergantian membacanya karena SIgit kan sudah pintar membaca. Sigit setuju dan malam itu kita bergantian membacanya.
Malam berikutnya SIgit ingin membaca sendiri lebih banyak, 4 halaman sekaligus secara langsung kemudian dilanjutkan oleh Ibu dan diakhiri 4 halaman terakhir oleh Sigit.
2 malam selanjutnya Sigit bisa membaca 16 halaman secara utuh sendirian dan yang membuat Ibu terharu Sigit membaca mengikuti nada bacaan Ibu yang mengalun seperti drama. Misalnya saat membaca kalimat di halaman pertama , “Kata-kata pertama yang mereka dengar di dunia ini adalah “Prajurit Timah !” Biasanya kata Prajurit Timah akan Ibu bacakan dengan suara memekik . Maka Sigit mengikuti alunan kata Ibu itu. Juga ketika Prajurit Timah bertemu tikus tanah di pipa, dimana tikus itu marah kepada Prajurit Timah maka nada bacaan Sigit pun terlihat jengkel sebagaimana kejengkelan si Tikus yang itu tirukan.
Setelah itu kemarin malam, Sigit menyuruh Ibu membacakan cerita itu dari Awal dan yang dilakukan Sigit adalah mempraktekkan isi bacaan itu. Sigit menjadi si Prajurit Timah yang berkaki satu, dengan membawa sendok penggorengan sebagai senjata dan mengangkat satu kaki ke atas agar terlihat hanya memiliki satu kaki. Hahahahah .. Sahira pun ikut berperan dalam drama ini, dia menjadi penari balet yang mengangkat kakinya satu kakinya tinggi-tinggi. Ibu terpaksa memegang pinggang Sahira agar dia bisa membuat tampilannya mirip di buku cerita, kedua tangan di angkat ke atas membuat seperti lingkaran dan salah satu kaki diangkat laksana penari balet.
Giliran ketika Prajurit Timah dimasukkan ke dalam perahu dari kertas Koran, Ibu pun harus membuat perahu sebagai tempat berdiri Sigit selaku Prajurit timah.
Kalian bahagia sekali dengan sandiwara malam itu. Sementara Ibu hanya bisa terharu dan berdoa semoga ketika kalian membaca cerita dongeng “Pakaian Baru Sang Raja “ tidak akan ikut-ikutan bertelanjang di malam hari untuk mempraktekkan tingkah si Raja saat bermain peran sesuai isi dongeng itu.
Ditulis dalam Uncategorized | 1 Komentar »
Salah satu keunikan dikaruniai anak perempuan adalah pernak pernik penampilannya yang beraneka ragam. Aneka bentuk , warna, tampilan mewarnai kesehariannya, termasuk salah satu diantaranya adalah Anting / Giwang/Kerabu (bahasa Medan)
Sahira pun tidak luput dari yang satu ini. Walaupun tindik anting masih kontraversial dari sudut syariah Islam, yang jelas tahun 2005 , RSIA Hermina menawarkan fasilitas ini bagi bayi yang lahir di sana.
Anting pertama Ira dihadiahkan oleh Bibi Tengah Pekayon (Bibi Maria) dan dipasangkan oleh suster di bagian Bayi, sehingga Ibu tidak pernah mendengar tangisan mu saat cuping telinga mungil itu dimasuki oleh jarum pelubang. Anting ini terbuat dari Emas 24 karat seberat 1 gram harganya Rp 170.000, Bi Tengah membelinya di Toko Mas di Metmal Bekasi yang berada tidak jauh dari RS Hermina Bekasi.
Anting itu bertahan cukup lama, kurang lebih 1, 5 thn .Setelah itu aktifitas Ira membuat salah satu anting itu nyangkut ntah dimana dan akhirnya hilang sebelah. Mbak Murni meminta Ibu segera membelikan penggantinya karena tidak ingin lubang di cuping telinga itu tertutup karena tidak ada pengganjalnya.
Setelah berdiskusi dengan Nyak Imah (Tukang pijat Langganan) , diputuskan untuk membeli anting model Toge. Ibu awalnya bingung seperti apa bentuknya, tapi pengalaman Nyak, bahwa Fitri, cucu perempuannya sudah 3 tahun menggunakan anting model ini dan tidak pernah jatuh. Ibu minta tolong Nyak untuk membelikannya di toko Mas di Pasar Seroja, harganya ½ gram Rp 70.000
Ternyata membutuhkan 2 orang untuk menggunakannya, mungkin karena Ira sudah bisa mengapresiasikan rasa sakit ketika itu dengan tangisan, membuat Mbak Murni minta bantuan Mama Dida (tetangga depan rumah) untuk memasang anting tersebut.
Sayangnya umur anting ini tidak lama, 6 bulan kemudian, satu dari Anting Toge ini hilang ntah dimana. Kabarnya nyangkut di kelambu dan akhirnya tidak dapat ditemukan lagi. Ira cukup bangga dengan satu anting tersisa di telinga. Lihatlah waktu ke RS Hermina untuk imunisasi Typhoid pada umur 2 tahun, santai aja dengan gaya unik itu.
Waktu Mbak Murni melaporkan kepada Ibu bahwa lubang pada telinga yang kanan mulai tertutup, sementara saat itu Ibu tidak punya uang ekstra untuk membeli penggantinya maka diputuskan untuk menggunakan 2 sisa anting yang berbeda model itu di Telinga Ira.
Maka telinga kiri menggunakan Anting dari Bi Tengah yang model klasik Bulat dan telinga kanan menggunakan Anting Toge .
Dan dengan gaya slank ini Ira menampilkan diri di Medan, Juni 2008, saat Mama Andi nikah. Cukup Unik dan Sering dipertanyakan Keluarga yang bertemu. Ira jadi ngetop deh . Tapi tidak ada nyindir Ibu bahwa gaya ini tercipta karena Ibu tidak punya duit. Coba kalau ada yang ngeledekin pasti langsung Ibu todong duit patungan buat membeli sepasang anting yang baru. Hahahah ..
Agustus 2008 , Alhamdulillah Ibu punya rezeki untuk membeli Anting baru dengan model bulat dengan diameter yang lebih lebar dibandingkan saat bayi. Terbuat dari Emas 22 karat seberat 1/2 gram , harganya Rp 65.000 belinya di Pasar Poncol di Komplek Permata Hijau. Lihatlah betapa manisnya Ira dengan anting baru itu, walaupun kata Mbak Murni, diiringi air mata Ira untuk memasangkannya.
Namun, sekali lagi terjadi pemberontakan , diawali ketika Lebaran Oktober kemarin ke Kutoarjo, Ira melihat dek Nafis (anak Lek Wono) tidak menggunakan anting. Kebetulan sekali Ibu dek Nafis (Lek Umi) berprinsip bahwa menindik telinga makruh hukumnya karena termasuk kategori menyakiti diri sendiri. Ira yang ntah kenapa sepertinya melihat bahwa menggunakan Anting itu tidak penting dan memutuskan untuk mencopot anting itu dengan menariknya pada suatu hari saat hendak tidur. Untung Ibu sempat mendapatkan ke 2 anting tersebut.
Alhasil Ira tidak menggunakan Anting lagi.
Sampai suatu hari di awal November, Ira memutuskan untuk ikut kelas playgroup di hari Sabtu di RA Darul Hikmah, tempat Sigit sekolah. Waktu itu Ira sudah menggunakan baju olahraga (bekas Sigit waktu Playgroup) , celana jeans dan sepatu kets. Menunggu bel masuk , Ira bermain seluncuran di halaman RA.
Ibu Endah salah satu pemilik RA , tanya ke Ibu, “Ibu , Adik Sigit yang perempuan tidak diajak ? “
Jawab Ibu dengan heran atas pertanyaan itu , “Ini dia anaknya ! “
Ibu Endah : “ Subhanallah , Maaf Ibu, saya kira ini anak Ibu yang lain. Walaupun saya sebenarnya heran, karena kata pembantu Ibu dia mengasuh satu anak di rumah yang belum sekolah. Sementara yang sering diajak itu pakai jilbab. “
Walah , gini nih saat Ira tampil tomboy. Tanpa Anting, tanpa Jilbab.
Karena peristiwa kehilangan identitas ini, diputuskan Ira untuk membeli anting baru. Mudah – mudahan jika memilih sendiri modelnya akan memotivasi Ira untuk bertahan dalam menggunakannya. Maka inilah model yang dipilih Ira. Berurai panjang ke bawah dengan kaitan , kemudian disusul batu berwarna biru selanjutnya kepingan kepala Mickey Mouse, ini dari Emas , 22 karat dengan berat 0,5 gram harganya Rp 65.000 belinya lagi lagi di tukang emas di Pasar Poncol.
Lantas apakah ini ending kisah Anting Ira ?? ternyata tidak.
Minggu lalu Anting yang kiri copot pada gambar Mickeynya dan kemarin malam copot dan tinggal lingkarannya saja. Aduh ternyata umur Anting ini tidak sampai satu bulan.
Hari ini di KRL Ibu membeli anting imitasi bergambar strawberry seharga Rp 2.000 dengan kaitan dari plastik. Kalaupun cepat rusak Ibu tidak terlalu sedih karena harganya murah meriah. Sepertinya harus menunggu 3 tahun lagi Ira dibelikan Anting dari Emas ya.
Ditulis dalam Sahira | Tidak ada komentar »

Tidak ada komentar:
Posting Komentar